MAKALAH HADITS TENTANG TIGA ORANG SAHABAT (BAHTSUL KUTUB 2)

BAB I

PENDAHULUAN

Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang diciptakan dari tanah dengan bermacam-macam istilah, yaitu tanah (turab), tanah kering (shal-shal), lumpur hitam (hamain), thin (tanah kering) dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa fisik manusia berasal dari bermacam-macam bahan yang ada dalam tanah. Hal demikian sesuai dengan firman-Nya dalam QS. Al-Mu’minun 12-16 yang berbicara banyak tentang proses kejadian manusia, yaitu :

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat”.

Sebenarnya, terdapat tiga kata yang digunakan oleh Al-Qur’an dalam menamai manusia. Pertama, menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif, nun dan sin semacam insan. Ins, nas, atau unas. Kedua, Menggunakan kata basyar. Ketiga, menggunakan kata Bani Adam, dan Zuriyat Adam. Uraian ini akan mengarahkan pandangan khusus kepada kita kata basyar dan kata insan. Tubuh manusia terdiri dari roh dan jasad, kedua unsur ini membentuk senyawa, sehingga terwujud proses dan mekanisme hidup. Terputusnya dua unsur ini berarti terjadinya kematian.

Dalam hal ini, banyak faktor yang membuat seseorang takut mati. Ada orang yang enggan mati, karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian, mungkin juga karena menduga bahwa yang dimiliki sekarang lebih baik dari yang akan didapati nanti. Atau mungkin juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati. Atau mungkin karena khawatir memikirkan dan prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan, atau karena tidak mengetahui makna hidup dan mati, dan lain sebagainya, sehingga semuanya merasa cemas dan takut menghadapi kematian. Dari sini lahir pandangan-pandangan pesimistis dan optimistis terhadap kematian dan kehidupan.

Berbicara tentang kematian, Rasulullah SAW berpesan dalam sebuah haditsnya kepada segenap umat Islam, agar mempersiapkan diri untuk menjadi muslim yang meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Dalam makalah ini, penulis akan mengkaji secara komprehensif, tentang persiapan yang harus dilakukan oleh seorang muslim agar mencapai derajat meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Karena meninggal dalam keadaan husnul khotimah merupakan cita-cita tertinggi setiap muslim di seluruh dunia.

BAB II

ISI DAN KESIMPULAN HADITS

  1. A. Redaksi Hadits
  1. B. Terjemah Hadits
  1. C. Kesimpulan Hadits

Dari hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki, yakni meninggal dalam keadaan husnul khotimah, Rasulullah SAW berpesan kepada umat Islam agar sebelum kematian itu tiba, seorang muslim harus memperispkan diri dengan cara rajin dan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih dengan dipengaruhi oleh perantara harta dan keluarganya, sehingga amal shalih tersebut akan menjadi pendamping hidup selamanya di alam kubur hingga ke akhirat.

BAB III

LANDASAN TEORITIS

  1. A. Amal Itu Tergantung Niatnya

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ” متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

(Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

  1. B. Beramal Shalih Sesuai Kemampuan

عن أبي هريرة عبدالرحمن بن صخر رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم , فإنما أهلك الذين من قبلكم كثرة مسائلم واختلافهم على أنبيائه

Dari Abu Hurairah, ‘Abdurrahman bin Shakhr radhiallahu ‘anh, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah bersabda : “Apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka (tidak mau taat dan patuh)” (Bukhari no. 7288, Muslim no. 1337)

  1. C. Orang Kaya Yang Bersyukur

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka barangsiapa memberi - untuk kebaikan – dan bertaqwa, serta membenarkan – mempercayai - apa-apa yang baik, maka Kami akan memudahkan padanya untuk menempuh jalan yang mudah -yaitu mengerjakan kebaikan, keimanan dan akbirnya ke syurga.” (al-Lail: 5-7).

“Dan akan dihindarkan dari neraka itu orang yang bertaqwa, yang memberikan hartanya - untuk kebaikan, agar menjadi bersih -jiwanya. Dan tiada seorangpun dari kenikmatan yang ada padanya akan diberi pembalasan, melainkan karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan orang itu nantinya akan lega.” (al-Lail: 17-21).

“Jikalau engkau semua memberikan sedekah dengan terang-terangan, maka itu adalah baik,tetapi jikalau engkau semua menyembunyikannya – yakni tidak dengan cara terang-terangan dilihat orang lain, kepada orang-orang fakir, maka hal itu adalah lebib baik lagi untukmu semua dan dapat menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahanmu dan Allah adalah Maha mengetahui apa-apa yang engkau semua lakukan.” (al-Baqarah: 271)

“Tidak sekali-kali engkau semua akan memperoleh kebajikan sehingga engkau semua suka menafkahkan sebagian dari apa yang engkau semua cintai. Dan apa saja yang engkau semua nafkahkan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (ali-lmran: 92)

  1. D. Anak Shalih Yang Mendokan Orang Tua

Allah Ta’ala berfirman:

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. Ibrahim : 41)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (Mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.). (Al-Isra’ : 23)

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isra’ : 24)

Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan“. (Nuh : 28)

BAB VI

ANALISIS HADITS

Ada beberapa hal yang berkenaan dengan hadits tentang tiga sahabat manusia tatkala menemui ajalnya, yang tercantum pada bab II di atas, yaitu sebagai berikut :

  1. A. Harta

Dengan harta yang ia miliki, baik berupa kendaraan ataupun para pembantu dan ajudan. Apabila mayit seorang kaya atau pejabat, mereka akan mengiringinya menuju pemakaman. harta hanya akan menyertainya sampai di pemakaman, sebanyak apapun harta yang dia miliki, semuanya pasti tidak akan  menemaninya di “rumah masa depan” tersebut. Namun, ketika sang pemilik harta tersebut menbelanjakan hartanya dengan sesuai syari’at, itu artinya ia telah beramal shalih dengan hartanya. Hal demikian itu adalah sebagai berikut:

  1. 1. Orang Kaya Yang Bersyukur

Allah Ta’ala berfirman: “Maka barangsiapa memberi - untuk kebaikan – dan bertaqwa, serta membenarkan – mempercayai - apa-apa yang baik, maka Kami akan memudahkan padanya untuk menempuh jalan yang mudah -yaitu mengerjakan kebaikan, keimanan dan akbirnya ke syurga.” (al-Lail: 5-7).

“Dan akan dihindarkan dari neraka itu orang yang bertaqwa, yang memberikan hartanya - untuk kebaikan, agar menjadi bersih -jiwanya. Dan tiada seorangpun dari kenikmatan yang ada padanya akan diberi pembalasan, melainkan karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan orang itu nantinya akan lega.” (al-Lail: 17-21).

“Jikalau engkau semua memberikan sedekah dengan terang-terangan, maka itu adalah baik,tetapi jikalau engkau semua menyembunyikannya – yakni tidak dengan cara terang-terangan dilihat orang lain, kepada orang-orang fakir, maka hal itu adalah lebib baik lagi untukmu semua dan dapat menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahanmu dan Allah adalah Maha mengetahui apa-apa yang engkau semua lakukan.” (al-Baqarah: 271)

“Tidak sekali-kali engkau semua akan memperoleh kebajikan sehingga engkau semua suka menafkahkan sebagian dari apa yang engkau semua cintai. Dan apa saja yang engkau semua nafkahkan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (ali-lmran: 92)

Hal di atas sesuai dengan hadits-hadits Nabi Saw, yaitu sebagai berikut :

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada kehasudan yang dibolehkan melainkan dalam dua macam perkara, yaitu: seseorang yang dikarunia oleh Allah akan harta, kemudian ia mempergunakan guna menafkahkannya itu untuk apa-apa yang hak – kebenaran – dan seseorang yang dikarunia oleh Allah akan ilmu pengetahuan, kemudian ia memberikan keputusan dengan ilmunya itu – antara dua orang atau dua golongan yang berselisih – serta mengajarkannya pula.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Tiada kehasudan yang dibolehkan, melainkan dua macam perkara, yaitu: seseorang yang dikaruniai oleh Allah kepandaian dalam al-Quran – membaca, mengertikan dan Iainlain, kemudian ia suka bersembahyang dengan membaca al-Quran itu pada waktu malam dan siang, juga seseorang yang dikarunia oleh Allah akan harta lalu ia menafkahkannya pada waktu malam dan siang.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya kaum fakir dari golongan sahabat-sahabat Muhajirin sama mendatangi Rasulullah s.a.w. lalu mereka berkata: “Orang-orang yang berharta banyak itu sama pergi – yakni meninggal dunia – dengan membawa derajat yang tinggi-tinggi serta kenikmatan yang kekal.” Rasulullah s.a.w. bertanya: “Mengapa demikian?” Orang-orang itu menjawab: “Karena mereka dapat bersembahyang sebagaimana kita juga bersembahyang, mereka berpuasa sebagaimana kita berpuasa, mereka bersedekah, sedangkan kita tidak dapat bersedekah dan sedangkan mereka dapat memerdekakan – hambasahaya – dan kita tidak dapat memerdekakan itu.” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Sukakah engkau semua saya beritahukan akan sesuatu amalan yang dengannya itu engkau semua dapat mencapai pahala orang yang mendahuluimu dan pula dapat mendahului orang yang sesudahmu. Juga tiada seorangpun yang menjadi lebih utama daripadamu semua, melainkan orang yang mengerjakan sebagaimana amalan yang engkau semua lakukan ini?” Para sahabat menjawab: “Baiklah, ya Rasulullah.” Beliau kemudian bersabda lagi: “Bacalah tasbih – Subhanallah, takbir – Allah Akbar – dan tahmid – Alhamdulillah – setiap selesai bersembahyang sebanyak tigapuluh tiga kali masing-masing.” Selanjutnya kaum fakir dari golongan sahabat Muhajirin itu kembali mendatangi Rasulullah s.a.w. lalu mereka berkata: “Saudara-saudara kita golongan yang hartawan – hartawan itu telah mendengar mengenai apa yang kita kerjakan ini, oleh sebab itu merekapun mengerjakan sebagai yang kita lakukan itu.” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Yang sedemikian itu adalah keutamaan Allah yang dlkaruniakan oleh Nya kepada siapa saja yang dikehendaki.” (Muttafaq ‘alaih)

  1. B. Keluarga

Dalam keluarga, manakala seseorang yang telah wafat, maka orang-orang akan mengiringinya, terutama keluarganya,  menuju tempat tinggal sementara di alam kubur, alam kubur yang akan menjadi “rumah idaman” setiap insan muslim yang shalih dan akan menikmati “malam pertamanya” di sana. Alam kubur akan menjadi malapetaka bagi mereka yang durhaka kepada Sang pencipta alam semesta. Tetapi, tatkala si mayit mempunyai anak yang dapat mendoakan si mayit, maka doa anaklah yang nantinya dapat mengiringi dan menerangi si mayit yang dalam hal ini adalah orang tuanya, ketika berada di dalam kubur. Hal demikian akan dijelaskan sebagai berikut :

  1. 1. Anak Shalih Yang Mendokan Orang Tua

Berbakti kepada kedua orang tua ialah salah satu masalah yang penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memrintahkan kepada manuisa untuk bertauhid kepada Allah SWT, Dia memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT, yaitu :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (Mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.). (Al-Isra’ : 23)

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isra’ : 24)

Jika kedua orang tua sudah meninggal, cara yang terbaik untuk berbakti kepada orang tua adalah dengan cara mendoakannya agar dapat diterima disisi Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT, yaitu :

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. Ibrahim : 41)

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan“. (Nuh : 28)

  1. C. Amal

Dengan amal, hanya amal si mayit yang akan kekal menyertainya hingga alam kubur bahkan sampai akhirat kelak. Sedangkan keluarga dan hartanya akan kembali pulang. Amal inilah yang akan menyertai dan menemani si mayit di alam kubur, bila amal shalih yang menjadi bekal dan menemaninya selama di “rumah masa depan” tersebut, maka kenikmatan yang akan selalu dia rasakan. Namun sebaliknya apabila bekal amal buruk  dan kedurhakaan dia kepada Sang Pencipta, maka malapeka dan siksa yang akan selalu dirasakan di alam barzakh tersebut.

Namun dalam beramal, seorang muslim harus berniat karena Allah SWT semata, karena kalau niat dalam beramal itu salah, maka nilai pahala dari niat itu akan luntur dan tidak membekas sedikitpun. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut :

  1. 1. Amal Itu Tergantung Niatnya

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه ” متفق عليه

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

(Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Hadits ini adalah Hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan didalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim telah meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad.

Hadits ini salah satu pokok penting ajaran islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’I berkata : “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dll. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih”, sejumlah Ulama’ mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.

Para ulama gemar memulai karangan-karangannya dengan mengutip hadits ini. Di antara mereka yang memulai dengan hadits ini pada kitabnya adalah Imam Bukhari. Abdurrahman bin Mahdi berkata : “bagi setiap penulis buku hendaknya memulai tulisannya dengan hadits ini, untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya”.

Hadits ini dibanding hadits-hadits yang lain adalah hadits yang sangat terkenal, tetapi dilihat dari sumber sanadnya, hadits ini adalah hadits ahad, karena hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab dari Nabi SAW. Dari Umar  hanya diriwayatkan oleh ‘Alqamah  bin Abi Waqash, kemudian hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dan selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id Al Anshari, kemudian barulah menjadi terkenal pada perawi selanjutnya. Lebih dari 200 orang rawi yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dan kebanyakan mereka adalah para Imam.

Pertama : Kata “Innamaa” bermakna “hanya/pengecualian” , yaitu menetapkan sesuatu yang disebut dan mengingkari selain yang disebut itu. Kata “hanya” tersebut terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian secara mutlak dan terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian yang terbatas. Untuk membedakan antara dua pengertian ini dapat diketahui dari susunan kalimatnya. Misalnya, kalimat pada firman Allah : “Innamaa anta mundzirun” (Engkau (Muhammad) hanyalah seorang penyampai ancaman). (QS. Ar-Ra’d:7)

Kalimat ini secara sepintas menyatakan bahwa tugas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanyalah menyampaikan ancaman dari Allah, tidak mempunyai tugas-tugas lain. Padahal sebenarnya beliau mempunyai banyak sekali tugas, seperti menyampaikan kabar gembira dan lain sebagainya. Begitu juga kalimat pada firman Allah : “Innamal hayatud dunyaa la’ibun walahwun” à “Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan dan permainan”. (QS. Muhammad : 36)

Kalimat ini menunjukkan pembatasan berkenaan dengan akibat atau dampaknya, apabila dikaitkan dengan hakikat kehidupan dunia, maka kehidupan dapat menjadi wahana berbuat kebaikan. Dengan demikian apabila disebutkan kata “hanya” dalam suatu kalimat, hendaklah diperhatikan betul pengertian yang dimaksudkan.

Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Tentang sabda Rasulullah, “semua amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat.

Kedua : Kalimat “Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya” oleh Khathabi dijelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan pengertian yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu menegaskan sah tidaknya amal bergantung pada niatnya. Juga Syaikh Muhyidin An-Nawawi menerangkan bahwa niat menjadi syarat sahnya amal. Sehingga seseorang yang meng-qadha sholat tanpa niat maka tidak sah Sholatnya,

Ketiga : Kalimat “Dan Barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya” menurut penetapan ahli bahasa Arab, bahwa kalimat syarat dan jawabnya, begitu pula mubtada’ (subyek) dan khabar (predikatnya) haruslah berbeda, sedangkan di kalimat ini sama. Karena itu kalimat syarat bermakna niat atau maksud baik secara bahasa atau syari’at, maksudnya barangsiapa berhijrah dengan niat karena Allah dan Rosul-Nya maka akan mendapat pahala dari hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya.

Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais.

  1. 2. Beramal Shalih Sesuai Kemampuan

عن أبي هريرة عبدالرحمن بن صخر رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم , فإنما أهلك الذين من قبلكم كثرة مسائلم واختلافهم على أنبيائه

Dari Abu Hurairah, ‘Abdurrahman bin Shakhr radhiallahu ‘anh, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah bersabda : “Apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka (tidak mau taat dan patuh)” (Bukhari no. 7288, Muslim no. 1337)

Hadits ini terdapat dalam kitab Muslim dari Abu Hurairah, ia berkata : “Rasulullah berkhutbah dihadapan kami, sabda beliau : Wahai manusia, Allah telah mewajibkan kepada kamu haji, karena itu berhajilah, lalu seseorang bertanya : Wahai Rasulullah… apakah setiap tahun ?. Rasulullah diam, sampai orang itu bertanya tiga kali, lalu Rasulullah bersabda : Kalau aku katakana “ya” niscaya menjadi wajib dan kamu tidak akan sanggup melakukannya, kemudian beliau bersabda lagi : Biarkanlah aku dengan apa yang aku diamkan, karena kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka. Maka jika aku perintahkan melakukan sesuatu, kerjakanlah menurut kemampuan kamu, tetapi jika aku melarang kamu melakukan sesuatu, maka tinggalkanlah. Laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah adalah Aqra’ bin Habits, demikianlah menurut suatu riwayat.

Para ahli ushul fiqh mempersoalkan perintah dalam agama, apakah perintah itu harus dilakukan berulang-ulang ataukah tidak. Sebagian besar ahli fiqh dan ahli ilmu kalam menyatakan tidak wajib berulang-ulang. Akan tetapi yang lain tidak menyatakan setuju atau menolak, tetapi menunggu penjelasan selanjutnya. Hadits ini dijadikan dalil bagi mereka yang bersikap menanti (netral), karena sahabat tersebut bertanya “Apakah setiap tahun?” sekiranya perintah itu dengan sendirinya mengharuskan pelaksanaan berulang-ulang atau tidak, tentu Rasulullah tidak menjawab dengan kata-kata “Kalau aku katakan “ya”, niscaya menjadi wajib dan kamu tidak akan sanggup melakukannya” Bahkan tidak ada gunanya hal tersebut ditanyakan. Akan tetapi secara umum perintah itu mengandung pengertian tidak perlu dilaksanakan berulang-ulang. Kaum muslim sepakat bahwa menurut agama, bahwa haji itu hanya wajib dilakukan satu kali seumur hidup.

Kalimat, “Biarkanlah aku dengan apa yang aku diamkan” secara formal menunjukkan bahwa setiap perintah agama tidaklah wajib dilaksanakan berulang-ulang, kalimat ini juga menunjukkan bahwa pada asalnya tidak ada kewajiban melaksanakan ibadah sampai datang keterangan agama. Hal ini merupakan prinsip yang benar dalam pandangan sebagian besar ahli fiqh.

Kalimat, “Kalau aku katakan “ya” tentu menjadi wajib” menjadi alasan bagi pemahaman para salafush sholih bahwa Rasulullah mempunyai wewenang berijtihad dalam masalah hukum dan tidak diisyaratkan keputusan hukum itu harus dengan wahyu.

Kalimat, “apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu” merupakan kalimat yang singkat namun padat dan menjadi salah satu prinsip penting dalam Islam, termasuk dalam prinsip ini adalah masalah-masalah hukum yang tidak terhitung banyaknya, diantaranya adalah sholat, contohnya pada ibadah sholat, bila seseorang tidak mampu melaksanakan sebagian dari rukun atau sebagian dari syaratnya, maka hendaklah ia lakukan apa yang dia mampu.

Begitu pula dalam membayar zakat fitrah untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya, bila tidak bisa membayar semuanya, maka hendaklah ia keluarkan semampunya, juga dalam memberantas kemungkaran, jika tidak dapat memberantas semuanya, maka hendaklah ia lakukan semampunya dan masalah-masalah lain yang tidak terbatas banyaknya.

Pembahasan semacam ini telah populer didalam kitab-kitab fiqh. Hadits diatas sejalan dengan firman Allah, QS. At-Taghabun 64:16, “Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kemampuan kamu” Adapun firman Allah, QS. Ali ‘Imraan 3:102, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan taqwa yang sungguh-sungguh” ada yang berpendapat telah terhapus oleh ayat diatas. Sebagian ulama berkata : Yang benar ayat tersebut tidak terhapus bahkan menjelaskan dan menafsirkan apa yang dimaksud dengan taqwa yang sungguh-sungguh, yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, dan Allah memerintahkan melakukan sesuatu menurut kemampuan, karena Allah berfirman, QS. Al-Baqarah 2:286, “Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya” dan firman Allah dalam QS. Al-Hajj 22:78, “Allah tidak membebankan kesulitan kepada kamu dalam menjalankan agama”

Kalimat, “apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi” maka hal ini menunjukkan adanya sifat mutlak, kecuali apabila seseorang mengalami rintangan /udzur dibolehkan melanggarnya, seperti dibolehkan makan bangkai dalam keadaan darurat, dalam keadaan seperti ini perbuatan semacam itu menjadi tidak dilarang. Akan tetapi dalam keadaan tidak darurat hal tersebut harus dijauhi karena ada larangan. Seseorang tidak dapat dikatakan menjauhi larangan jika hanya menjauhi larangan tersebut dalam selang waktu tertentu saja, berbeda dengan hal melaksanakan perintah, yang mana sekali saja dilaksanakan sudah terpenuhi. Inilah prinsip yang berlaku dalam memahami perintah secara umum, apakah suatu perintah harus segera dilakukan atau boleh ditunda, atau cukup sekali atau berulang kali, maka hadits ini mengandung berbagai macam pembahasan fiqh.

Kalimat, “Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka” disebutkan setelah kalimat, “biarkanlah aku dengan apa yang aku diamkan kepada kamu” maksudnya ialah kamu jangan banyak bertanya sehingga menimbulkan jawaban yang bermacam-macam, menyerupai peristiwa yang terjadi pada bani Israil, tatkala mereka diperintahkan menyembelih seekor sapi yang seandainya mereka mengikuti perintah itu dan segera menyembelih sapi seadanya, niscaya mereka dikatakan telah menaatinya.

Akan tetapi, karena mereka banyak bertanya dan mempersulit diri sendiri, maka mereka akhirnya dipersulit dan dicela. Rasulullah SAW khawatir hal semacam ini terjadi pada umatnya.

BAB V

KESIMPULAN ANALISIS

Dari analisis hadits pada BAB IV di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki, yakni meninggal dalam keadaan husnul khotimah, seorang muslim harus mempunyai hal-hal sebagai berikut :

  1. Harta tidak akan bisa menemani manusia yang meninggal, ketika di alam kubur.
  2. Harta dapat menemani manusia yang meninggal ketika di alam kubur, tatkala ia menjadi orang kaya yang bersyukur atau ia menggunakan hartanya untuk beramal shalih.
  1. Keluarga tidak akan bisa menemani manusia yang meninggal, ketika di alam kubur.
    1. Keluarga dapat menemani manusia yang meninggal ketika di alam kubur, tatkala ia mempunyai anak shalih yang mendoakan dirinya sebagai orang tuanya.
  1. Hanya Amal shalihlah yang dapat menemani manusia yang meninggal, ketika di alam kubur.
    1. Amal Shalih dapat menemani manusia yang meninggal, ketika di alam kubur. Apabila niatnya ikhlas karena Allah semata. Jadi, amal itu tergantung niatnya.
    2. Dalam beramal shalih harus sesuai kemampuan yang dimiliki.

DAFTAR PUSTAKA

-          Al – Qur’an Digital Versi 2.1

-          Hadits Arba’in An-Nawawi (Syarah Ibnu Daqiqil ‘Ied) Versi 1.0

-          Riyadhus Shalihin Imam Nawawi Digital 1 dan 2

-          Miftah Faridh. 1995. Pokok-pokok Ajaran Islam. Bandung : Penerbit Pustaka

-          M. Quraish Shihab. 2000. Wawasan Al-Qur’an. Bandung : Mizan

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Tak Berkategori | 1 Komentar